Home Sudut Pandang Membangun Perguruan Tinggi yang Tumbuh dan Berkelanjutan

Membangun Perguruan Tinggi yang Tumbuh dan Berkelanjutan

by Rudi Trianto
Membangun Perguruan Tinggi yang Tumbuh dan Berkelanjutan: Analisis Perbaikan, Pengembangan, dan Pembagian Peran.

Membangun Perguruan Tinggi yang Tumbuh dan Berkelanjutan. Mulai dari analisis perbaikan, pengembangan, dan pembagian peran. Banyak perguruan tinggi bercita-cita besar. Naik kelas, berkembang kelembagaan, unggul secara akademik, dan dipercaya masyarakat. Namun tidak sedikit yang terjebak pada semangat tanpa peta. Akibatnya, energi habis untuk kegiatan rutin, tetapi lompatan mutu tak kunjung terjadi. Padahal, pengembangan perguruan tinggi sejatinya dapat dibaca sebagai proses sistemik, bertahap, dan saling terhubung bukan kerja instan.

Dalam perspektif komunikasi organisasi, perguruan tinggi adalah organisasi kompleks yang hidup dari interaksi antara manusia, struktur, sumber daya, dan makna bersama. Maka perbaikannya tidak cukup satu aspek saja, melainkan harus dilakukan secara terstruktur. Setidaknya ada lima langkah strategis yang perlu dipahami sebagai satu kesatuan.

1. Menyiapkan Lahan dan Bangunan sebagai Fondasi Fisik dan Simbolik

Langkah pertama yang sering dianggap teknis, tetapi sesungguhnya sangat strategis, adalah penyediaan sarana dan prasarana. Mulai dari lahan, gedung, ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, hingga fasilitas penunjang lainnya. Dalam teori komunikasi organisasi, aspek ini disebut sebagai artefak organisasi, simbol fisik yang membentuk persepsi mutu, kredibilitas, dan keseriusan institusi.

Perguruan tinggi dengan sarana yang layak akan lebih mudah membangun kepercayaan publik, menarik mahasiswa, dan meyakinkan dosen berkualitas untuk bergabung. Gedung bukan sekadar susunan beton semata, tetapi pesan nonverbal bahwa institusi ini “siap tumbuh”. Tanpa fondasi fisik yang memadai, visi besar sering berhenti sebagai slogan.

2. Pengembangan SDM Dari S1 ke S2, dari S2 ke S3

Langkah kedua adalah pengembangan sumber daya manusia, khususnya dosen. Perguruan tinggi tidak akan pernah lebih maju dari kualitas dosennya. Mendorong dosen S1 melanjutkan ke S2, dan dosen S2 ke S3, bukan hanya kewajiban administratif, tetapi investasi intelektual jangka panjang.

Baca juga: Nasib Kampus Kecil, Bertahan atau Tumbang

Dalam teori modal manusia (human capital) dan komunikasi pengetahuan, dosen adalah produsen makna, pengetahuan, dan reputasi akademik. Dosen bergelar doktor bukan sekadar pemenuh syarat akreditasi, tetapi motor riset, publikasi, jejaring internasional, dan pembimbing generasi akademik berikutnya. Di sinilah pentingnya komunikasi visi, pengelola harus mampu meyakinkan dosen bahwa studi lanjut bukan beban pribadi, melainkan proyek bersama institusi.

3. Basis Keuangan yang Kuat: PMB, Zakat, dan Usaha Produktif

Langkah ketiga adalah membangun fondasi keuangan yang sehat dan beragam. Perguruan tinggi tidak bisa hanya bergantung pada satu sumber dana. Idealnya, ada tiga pilar utama: Pertama; PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) sebagai sumber utama operasional. Kedua; mitra zakat, infak, dan wakaf untuk menopang misi sosial dan keberlanjutan. Ketiga; unit usaha produktif untuk menopang kemandirian institusi.

Dalam perspektif teori sistem, keuangan adalah energi yang menggerakkan seluruh subsistem. Tanpa energi yang stabil, sistem akan stagnan. Di sinilah pentingnya transparansi dan komunikasi kepercayaan. Mitra zakat dan masyarakat hanya akan percaya jika institusi mampu mengomunikasikan tata kelola yang amanah dan profesional.

Membangun Perguruan Tinggi yang Tumbuh dan Berkelanjutan: Analisis Perbaikan, Pengembangan, dan Pembagian Peran.

Membangun Perguruan Tinggi yang Tumbuh dan Berkelanjutan: Analisis Perbaikan, Pengembangan, dan Pembagian Peran.

4. Learning System Management sebagai Infrastruktur Akademik Digital

Langkah keempat adalah membangun learning system management (LSM) yang terintegrasi: website institusi, sistem akademik (SIAKAD), e-learning, e-journal, e-library, hingga sistem pelaporan mutu. Di era digital, mutu perguruan tinggi tidak hanya diukur dari ruang kelas fisik, tetapi juga dari kecanggihan sistem pembelajaran dan layanan akademik.

Dalam teori komunikasi modern, sistem digital adalah media utama produksi dan distribusi pengetahuan. Perguruan tinggi yang tidak menguasai sistem ini akan tertinggal, tidak hanya secara teknis tetapi juga secara simbolik. Mahasiswa hari ini menilai mutu kampus dari kemudahan akses, keteraturan sistem, dan profesionalitas layanan digital.

5. Pengembangan Institusi Dari Sekolah Tinggi ke Universitas Multidisiplin

Langkah kelima adalah pengembangan kelembagaan secara bertahap dan realistis. Dari sekolah tinggi ilmu, naik ke sekolah tinggi agama Islam (STAI), lalu ke institut, hingga akhirnya universitas multidisiplin. Setiap tahap menuntut kesiapan berbeda yakni akademik, SDM, keuangan, dan tata kelola.

Dalam komunikasi organisasi, ini disebut transformasi institusional, perubahan identitas, struktur, dan narasi besar institusi. Kesalahan yang sering terjadi adalah lompat status tanpa kesiapan sistem. Akibatnya, nama naik tetapi kualitas goyah. Padahal transformasi yang sehat selalu bertumpu pada kesiapan internal, bukan sekadar ambisi eksternal.

Pembagian Peran Yayasan dan Pengelola, Ibarat PSSI dan Pelatih Tim Nasional

Kunci dari semua langkah di atas adalah pembagian peran yang jelas antara yayasan/penyelenggara dan pengelola perguruan tinggi. Di sinilah analogi PSSI dan pelatih tim nasional menjadi sangat relevan.

Baca juga: Arah Baru Pemasaran Kampus Swasta

Yayasan ibarat PSSI. Pertama; Menyediakan regulasi, kedua; sumber daya, dan arah besar, kedua; Menjaga keberlanjutan dan legitimasi institusi dan ketiga; Tidak turun ke teknis permainan harian

Pengelola perguruan tinggi (rektorat) ibarat pelatih tim nasional. Pertama; Mengelola strategi akademik, kedua; Membina dosen dan mahasiswa dan ketiga: Menjalankan operasional harian dan prestasi institusi.

Dalam teori penstrukturan adaptif, organisasi akan sehat jika struktur (aturan, wewenang yayasan) dan agensi (kreativitas pengelola) saling mendukung, bukan saling mengintervensi. Ketika yayasan terlalu teknis, pelatih kehilangan ruang taktik. Ketika pengelola melampaui mandat, organisasi kehilangan arah.

Pengembangan perguruan tinggi bukan proyek sesaat, melainkan perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, kejelasan peran, dan komunikasi yang sehat. Lima langkah sarana prasarana, SDM, keuangan, sistem pembelajaran, dan transformasi institusi harus dipahami sebagai satu sistem utuh.

Jika yayasan fokus pada fondasi dan arah, pengelola fokus pada strategi dan mutu, serta keduanya terhubung oleh komunikasi yang saling percaya, maka perguruan tinggi tidak hanya akan tumbuh, tetapi juga berkelanjutan dan bermartabat. (eLmasaw)

You may also like