Home Sudut Pandang Transformasi Perguruan Tinggi Berbasis Penguatan SDM

Transformasi Perguruan Tinggi Berbasis Penguatan SDM

by Rudi Trianto
Transformasi Perguruan Tinggi Berbasis Penguatan SDM

Transformasi Perguruan Tinggi Berbasis Penguatan SDM. Perguruan tinggi kerap membanggakan akreditasi, gedung baru, atau rencana naik status kelembagaan. Semua itu penting. Tetapi ada satu hal yang sering luput dibicarakan secara jujur yakni mutu manusianya. Kampus pada akhirnya tidak pernah lebih tinggi dari kualitas dosen dan tenaga kependidikannya. Kalau SDM jalan di tempat, institusi pun sulit bergerak jauh sehebat apa pun visinya.

Kualitas tenaga pengajar adalah faktor kunci daya saing pendidikan tinggi. Kita bisa melihat contohnya di dalam negeri. Peningkatan posisi Universitas Indonesia dalam QS World University Rankings, sangat dipengaruhi oleh indikator reputasi akademik dan sitasi per dosen, dua hal yang langsung terkait dengan kualitas dan produktivitas SDM (https://www.topuniversities.com/university-rankings/world-university-rankings/2024). Artinya sederhana, reputasi tidak lahir dari papan nama tetapi dari karya orang-orang di dalamnya.

Pentingnya Studi Lanjut bagi Dosen

Mendorong dosen melanjutkan studi dari S1 ke S2, atau dari S2 ke S3, sering dianggap sekadar memenuhi syarat akreditasi. Padahal urusannya jauh lebih strategis dari itu. Studi lanjut adalah investasi jangka panjang. Ia membentuk cara berpikir, memperluas jejaring, dan membuka ruang riset yang sebelumnya tidak terjangkau. Gelar doktor bukan hanya titel di belakang nama, tetapi kapasitas untuk menciptakan pengetahuan baru.

Human Capital Theory-nya Gary S. Becker menjelaskan bahwa kualitas manusia adalah aset utama organisasi. Kampus dengan proporsi doktor, dan lektor kepala yang memadai biasanya lebih lincah membangun budaya riset dan kolaborasi internasional. Namun di lapangan, pengembangan SDM kerap tersendat. Skema pembiayaan belum jelas, insentif kurang menarik, dan jalur karier tidak selalu transparan. Tak heran jika sebagian dosen memandang studi lanjut sebagai beban pribadi dan bukan agenda institusi.

Baca juga: Membangun Perguruan Tinggi yang Tumbuh dan Berkelanjutan

Peran pimpinan menjadi krusial di sini. Pengembangan dosen perlu dibingkai sebagai proyek bersama. Ketika ada dukungan nyata baik finansial maupun administratif, semangat studi lanjut tumbuh lebih sehat. Kita bisa melihat praktik ini di National University of Singapore (NUS). Kampus ini konsisten mendukung riset, program postdoctoral, dan publikasi internasional sehingga tetap bertahan di jajaran universitas terbaik dunia. Reputasi mereka tumbuh seiring penguatan SDM.

Di Indonesia, praktik yang sama terlihat dari program beasiswa LPDP yang membiayai studi doktoral ribuan dosen. Kenaikan jumlah doktor berbanding lurus dengan peningkatan publikasi terindeks Scopus yang tercatat di SINTA. Ini bukan sekadar teori. Data menunjukkan bahwa investasi pada manusia memang berdampak pada reputasi institusi.

Transformasi Perguruan Tinggi Berbasis Penguatan SDM

Transformasi Perguruan Tinggi Berbasis Penguatan SDM

Dari Gelar ke Kinerja

Namun gelar saja tidak otomatis menghasilkan dampak. Tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan kualifikasi diikuti produktivitas nyata. Dosen bergelar doktor diharapkan tidak hanya mengajar, tetapi juga memimpin riset, membangun inovasi, dan memperkuat reputasi kampus.

Dalam perspektif knowledge management, dosen adalah penghasil sekaligus penyebar pengetahuan. Mereka membentuk iklim diskusi, menggerakkan kolaborasi, dan membimbing generasi muda. Kampus yang sehat biasanya punya ruang-ruang ilmiah yang hidup. Mulai dari seminar rutin, kelompok riset aktif, hingga budaya mentoring.

Karena itu, sistem pendukung tidak bisa diabaikan. Skema riset internal, insentif publikasi, akses jurnal, hingga pelatihan metodologi harus disiapkan secara serius. Tanpa ekosistem yang mendukung, dosen berkualifikasi tinggi pun akan kesulitan berkinerja optimal.

Baca juga: Ketika Gelar Tinggi Lahirkan Gengsi

Model research university di Amerika dan Eropa menunjukkan bahwa reputasi bertumpu pada produktivitas akademik. Massachusetts Institute Technology (MIT) misalnya, menjadikan dosen sebagai pusat inovasi melalui dukungan riset dan kolaborasi industri. Di Indonesia, UGM mengalami penguatan posisi global seiring meningkatnya publikasi dan kolaborasi internasional. Lagi-lagi, kuncinya ada pada sistem yang mendorong dosen untuk produktif.

Perguruan tinggi yang benar-benar tumbuh adalah yang mampu mengubah peningkatan gelar menjadi peningkatan karya. Bukan hanya menambah daftar doktor, tetapi menambah kontribusi nyata.

Budaya Kerja Akademik yang Sehat

Pengembangan SDM sejatinya bukan hanya soal gelar dan riset. Ia juga menyangkut pembentukan budaya akademik. Budaya inilah yang menentukan apakah kampus bergerak sebagai komunitas pembelajar atau sekadar organisasi administratif.

Budaya akademik dibangun melalui komunikasi yang terbuka, pembagian peran yang jelas, serta penghargaan terhadap prestasi ilmiah. Dosen yang produktif perlu diapresiasi, dosen muda perlu dibina, dan dosen senior perlu dilibatkan sebagai mentor.

Perguruan tinggi yang serius mengembangkan SDM biasanya memiliki peta jalan karier dosen yang transparan. Ada tahapan yang jelas dari asisten ahli hingga guru besar. Ada sistem evaluasi yang objektif, bukan sekadar formalitas.

So, pengembangan SDM adalah kerja jangka panjang. Ia tidak menghasilkan hasil instan, tetapi dampaknya menentukan arah institusi puluhan tahun ke depan. Kampus yang ingin tumbuh berkelanjutan harus berani menempatkan pengembangan manusia sebagai prioritas utama, bukan agenda sampingan. Karena pada akhirnya, perguruan tinggi dibangun oleh manusianya dan akan dikenang karena kualitas manusianya.

You may also like