Home Sudut Pandang Nasib Kampus Kecil, Bertahan atau Tumbang

Nasib Kampus Kecil, Bertahan atau Tumbang

by Rudi Trianto
Nasib Kampus Kecil, Bertahan atau Tumbang

Nasib Kampus Kecil, Bertahan atau Tumbang. Perguruan tinggi kecil hari ini berada di persimpangan yang tidak mudah. Di satu sisi, pemerintah menaikkan standar mutu pendidikan tinggi dengan alasan meningkatkan kualitas lulusan dan tata kelola kampus. Di sisi lain, kampus kecil terseok karena keterbatasan sumber daya, biaya operasional, dan daya saing yang tidak seimbang dengan tuntutan regulasi. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar. Apakah kampus kecil memang ditakdirkan tersingkir, atau masih ada strategi cerdas agar tetap hidup dan bertahan?

Ketika Jumlah Mahasiswa Tak Menutup Biaya

Masalah paling mendasar yang dihadapi kampus kecil adalah inefisiensi struktural yang hampir tidak terhindarkan. Dengan jumlah mahasiswa yang terbatas, beban biaya pengelolaan kampus menjadi terasa sangat berat. Pemasukan yang kecil harus menanggung biaya tetap yang besar, sehingga ruang gerak keuangan menjadi sempit.

Dalam sistem pendidikan tinggi, struktur organisasi kampus kecil pada dasarnya sama dengan kampus besar. Tetap harus ada rektor, wakil rektor, kaprodi, lembaga penjamin mutu, sistem IT akademik, hingga kewajiban pelaporan ke PDDIKTI. Bedanya, seluruh biaya ini dibagi ke jumlah mahasiswa yang jauh lebih sedikit, sehingga biaya per mahasiswa menjadi jauh lebih mahal.

Baca juga: Kampus Elit Mahasiswa Sulit

Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa Indonesia memiliki jumlah perguruan tinggi yang sangat besar. Data DetikEdu (3 Maret 2024) mencatat lebih dari 3.000 perguruan tinggi beroperasi di Indonesia, jumlah yang tidak sebanding dengan daya tampung dan daya beli masyarakat. Akibatnya, banyak kampus kecil berjalan dengan margin tipis dan rentan secara finansial.

Tanpa skala ekonomi yang memadai, kampus kecil akan terus tertekan oleh biaya struktural. Jika model pengelolaan tidak segera diubah, tekanan ini lambat laun akan menggerus kemampuan kampus untuk bertahan.

Tekanan Regulasi, Akreditasi, dan SDM

Selain persoalan biaya, kampus kecil juga menghadapi tekanan besar dari regulasi dan standar akreditasi yang terus meningkat. Standar ini pada dasarnya bertujuan baik, yakni mendorong mutu pendidikan tinggi. Namun, bagi kampus kecil, tuntutan tersebut sering kali terasa sangat memberatkan.

Penerapan Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM), kewajiban rasio dosen-mahasiswa, serta tuntutan memiliki dosen berpangkat Lektor Kepala membutuhkan dana besar. Fokus kampus kecil pun sering terpecah antara memenuhi syarat administratif dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam banyak kasus, energi lebih banyak habis untuk mengejar kelengkapan dokumen.

Nasib Kampus Kecil, Bertahan atau Tumbang

Nasib Kampus Kecil, Bertahan atau Tumbang

Biaya akreditasi, publikasi ilmiah bereputasi internasional, serta pengembangan karier dosen tidaklah murah. Situasi ini memicu praktik lama seperti meminjam nama dosen atau merekrut dosen senior dengan biaya tinggi demi memenuhi persyaratan formal. Semua dilakukan agar kampus tetap terlihat patuh pada aturan.

Jika regulasi hanya dipenuhi secara administratif tanpa penguatan kualitas nyata, kampus kecil akan kelelahan secara struktural dan kehilangan daya tahan jangka panjang. Tekanan ini membuat keberlangsungan kampus semakin rapuh.

Strategi Adaptasi agar Tetap Bertahan

Di tengah tekanan tersebut, kampus kecil sebenarnya masih memiliki peluang untuk bertahan. Kuncinya terletak pada keberanian mengubah strategi dan tidak memaksakan diri meniru model kampus besar. Bertahan bukan soal menjadi besar, tetapi menjadi relevan.

Alih-alih bersaing di semua lini, kampus kecil perlu fokus pada keunggulan khas yang dimiliki. Program studi yang spesifik, kedekatan relasi dengan mahasiswa, fleksibilitas kurikulum, serta layanan yang personal justru bisa menjadi nilai jual utama. Di titik ini, kampus kecil punya kelebihan yang sulit ditiru institusi besar.

Baca juga: Matinya Universitas dan Jalan Pulang Kampus Islam

Sejumlah kampus kecil mulai memilih jalur merger, kerja sama antar-institusi, kelas kolaboratif, atau spesialisasi bidang tertentu. Langkah ini membantu menekan biaya, memperkuat sumber daya, dan meningkatkan relevansi dengan kebutuhan lokal maupun regional.

Seleksi alam memang tak terelakkan dalam dunia pendidikan tinggi. Namun kampus kecil yang adaptif, fokus pada kekuatan sendiri, dan berani berkolaborasi masih memiliki peluang untuk bertahan dan tumbuh di tengah standar yang terus meninggi.

You may also like