Home Ilmu Komunikasi Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi

Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi

by Cak Rud
Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi

Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi. Sejarah  dan perkembangan  ilmu  komunikasi  dapat  ditelusuri  sejak zaman Yunani Kuno, beberapa ratus tahun Sebelum Masehi. Sejak itu perkembangan ilmu komunikasi dapat dibagi dalam empat (4) periode. Pertama, adalah periode tradisi retorika. Kedua, periode pertumbuhan yang terjadi dari tahun 1900 hingga Perang Dunia II. Ketiga, periode konsolidasi, yakni sejak usai perang Dunia II hingga tahun 1960-an. Keempat, adalah periode teknologi komunikasi yang terjadi sejak tahun 1960-an hingga sekarang. Tiap periode memberikan karakteristik tersendiri terhadap penekanan bidang studi dan konteks peristiwa komunikasi yang diamati.

Di Indonesia, pendidikan ilmu komunikasi baru mulai pada tahun 1949. Hingga tahun 1970-an bidang kajian komunikasi yang dipelajari umumnya dititikberatkan pada bidang jurnalistik dan penerangan. Pada masa  sekarang ini,  jumlah  perguruan  tinggi  yang  menyelenggarakan pendidikan ilmu komunikasi semakin banyak. Bidang kajiannya semakin luas, tidak hanya terbatas pada bidang jurnalistik dan penerangan. Berikut ini adalah uraian singkat mengenai sejarah dan perkembangan ilmu komunikasi untuk setiap periode.

1. Periode Tradisi Retorika

Perkembangan lahirnya ilmu komunikasi dapat ditelusuri sejak peradaban Yunani Kuno beberapa ratus tahun Sebelum Masehi. Sebutan komunikasi dalam konteks arti yang berlaku sekarang ini memang belum dikenal saat itu. Istilah yang berlaku pada zaman tersebut adalah retorika. Para ahli berpendapat bahwa studi retorika sebenarnya telah ada sebelum zaman Yunani (Golden, 1978; Fross, 1985; Forsdale, 1981). Disebutkan bahwa pada zaman kebudayaan Mesir Kuno telah ada tokoh-tokoh retorika seperti Kagemni dan PtahHotep. Namun demikian, tradisi retorika sebagai upaya pengkajian yang sistematis dan terorganisasi baru dilakukan di Zaman Yunani Kuno dengan perintisnya Aristotle (Golden, 1987).

Pengertian “retorika” menurut Aristotle, menunjukkan kepada segala upaya yang bertujuan untuk persuasi. Lebih lanjut, Aristotle menyatakan bahwa retorika mencakup tiga unsur, yakni: ethos (kredibilitas sumber), pathos (hal yang menyangkut emosi atau perasaan) c. logos (hal yang menyangkut fakta). Dengan demikian upaya persuasi, menurut Aristotle, menuntut tiga faktor, yakni kredibilitas dari pelaku komunikasi yang melakukan kegiatan persuasi, kemampuan untuk merangsang emosi atau perasaan dari pihak yang menjadi sasaran, serta kemampuan untuk mengungkapkan fakta-fakta yang mendukung (logika).

Pokok-pokok pikiran Aristotle ini kemudian dikembangkan lagi oleh Cicero dan Quintilian. Mereka menyusun aturan retorika yang meliputi lima unsur: Ivento (urutan argumentasi), Dispositio (pengaturan ide), Eloquito (gaya bahasa), Memoria (ingatan), serta Pronunciatio (cara penyampaian pesan). Lima unsur ini menurut Quintilian dan Cicero merupakan faktor-faktor penentu keberhasilan usaha persuasi yang dilakukan seseorang. Tokoh-tokoh retorika lainnya yang dikenal pada zaman itu adalah Coraz, Socrates, dan Plato.

Dalam abad pertengahan, studi retorika ini secara institusional semakin mapan, khususnya di negara-negara Inggris, Perancis, dan Jerman. Tokoh- tokoh yang terkemuka pada masa ini, antara lain Thomas Wilson, Francis Bacon, Rene Descartes, Jhon Locke, Giambattista Vico, dan David Hume. Dalam akhir abad ke-18, prinsip-prinsip retorika yang dikemukakan oleh Aristoteles, Cicero dan Quantilian. Ini kemudian menjadi dasar bagi bidang kajian speech communication (komunikasi ujaran) dan rhetoric. Retorika tidak lagi diartikan secara sempit sebagai upaya persuasi. Pengertian retorika sekarang ini menunjukkan pada “kemampuan manusia menggunakan lambang-lambang untuk berkomunikasi satu sama lainnya.” Tokoh-tokoh retorika yang terkenal pada saat ini antara lain: LA Richards, Richard M. Weaver, Stephen Toulmin, Kenneth Burke, Marshall McLuhan, Michel Foucault, Jurgen Habermas, Ernesto Grassi, dan Chaim Perelman.

2. Periode Pertumbuhan: 1900 – Perang Dunia II

Pertumbuhan komunikasi sebagi salah satu disiplin ilmu sosial barangkali dapat dikatakan dimulai pada awal abad ke-19. Sedikitnya ada tiga perkembangan penting yang terjadi pada masa ini. Pertama, adalah penemuan teknologi komunikasi seperti telepon, telegrap, radio, TV. Kedua, proses industrialisasi dan modernisasi yang terjadi di negara-negara Eropa Barat dan Amerika. Ketiga, pecahnya perang dunia I dan II.

Semua perubahan ini memberi bentuk dan arah pada bidang kajian ilmu komunikasi yang terjadi di masa ini. Secara umum, bidang-bidang studi komunikasi yang berkembang pada periode ini meliputi hubungan komunikasi dengan institusi dan masalah-masalah politis kenegaraan, Peranan komunikasi dalam kehidupan sosial, analisis psikologi sosial komunikasi, komunikasi dan pendidikan, propaganda, dan penelitian komunikasi komersial.

Baca juga: Pengantar dan Pengertian Ilmu Komunikasi

Pada masa itu, bidang kajian komunikasi dan bidang kehidupan sosial mulai berkembang sejalan dengan proses modernisasi yang terjadi. Diasumsikan bahwa komunikasi mempunyai peran dan kontribusi yang nyata terhadap perubahan sosial. Penelitian-penelitian empiris dan kuantitatif mulai banyak dilakukan dalam mengamati proses dan pengaruh komunikasi. Di bidang pengkajian komunikasi dan pendidikan misalnya, aspek-aspek yang diteliti mencakup penggunaan teknologi baru dalam pendidikan formal, keterampilan komunikasi, strategi komunikasi, serta reading and listening. Sementara di bidang penelitian komunikasi komersial, dampak iklan terhadap khalayak serta aspek-aspek lainnya yang menyangkut industri media mulai berkembang sejalan dengan tumbuhnya industri periklanan dan penyiaran (broadcasting).

Pikiran-pikiran baru tentang komunikasi yang terjadi pada masa ini, langsung ataupun tidak langsung dipengaruhi juga oleh gagasan-gagasan para ahli ilmu sosial Eropa. Pada masa itu (menjelang akhir abad ke 18) universitas-universitas di Eropa, terutama Jerman dan Perancis merupakan pusat intelektual terkemuka di dunia. Pokok-pokok pikiran dari Marx Weber, August Comte, Emile Durkheim, dan Sir Herbert Spencer dipandang punya pengaruh terhadap pengembangan teori-teori komunikasi yang terjadi pada periode ini. Tokoh-tokoh ilmuwan Eropa lainnya yang dianggap punya andil besar adalah Grabriel Tarde dan Georg Simmel.

3. Periode Konsolidasi: Perang Dunia II – 1960 an

Periode setelah Perang Dunia II sampai tahun 1960-an disebut sebagai periode konsolidasi (Delia, dalam Berger dan Chaffee, 1987). Karena pada masa ini konsolidasi pendekatan ilmu komunikasi sebagai suatu ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner (mencakup berbagai ilmu) mulai terjadi. Kristalisasi ilmu komunikasi ditandai oleh tiga (3) hal, yaitu: Pertama, adanya adopsi perbendaharaan istilah-istilah yang dipakai secara seragam. Kedua, munculnya buku-buku yang membahas tentang pengertian dan proses komunikasi. Ketiga, adanya konsep-konsep baku tentang dasar-dasar proses komunikasi. Pendekatan komunikasi telah menjadi suatu pendekatan yang lintas disipliner dalam arti mencakup berbagai disiplin ilmu lainnya karena disadari bahwa komunikasi merupakan suatu proses sosial yang kompleks.

Sedikitnya ada tujuh tokoh yang punya andil besar dalam periode ini. Mereka adalah Claude E, Shannon, Norbert Wiener, Harold Lasswell (ahli ilmu politik), Paul F. Lazarsfeld, dan Wilbur Schramm. Harold D. Lasswell (ahli ilmu politik), Paul F. Lazarsfeld (ahli sosiologi), Kurt Lewin dan Carl I. Hovland (keduanya ahli psikologi sosial), disebut oleh Wilbur Schramm sebagai the founding fathers (para pendiri dan perintis) ilmu komunikasi. Disebut demikian karena pokok-pokok pikiran mereka dipandang sebagai landasan bagi pengembangan teori-teori komunikasi.

Wilbur Schramm sendiri dipandang sebagai institutionalizer, yakni yang merintis upaya pelembagaan pendidikan komunikasi sebagai bidang kajian akademis. Karena jasanyalah pengembangan bidang kajian komunikasi menjadi suatu disiplin ilmu sosial yang mapan dan melembaga menjadi terealisasi. Institute of Communication Research yang didirikan Schramm di Illonis pada tahun 1947, merupakan lembaga pendidikan tinggi ilmu komunikasi yang pertama di Amerika Serikat. Sementara itu, dua tokoh lainnya, yakni Claude E. Shannon dan Norbert Wiener disebut sebagai “insinyur-insinyur komunikasi”.

Istilah Mass Communication (Komunikasi Massa) dan Communication Research (Penelitian Komunikasi) mulai banyak dipergunakan. Cakupan bidang studi komunikasi mulai diperjelas dan dibagi dalam beberapa bidang tataran, yaitu komunikasi intrapribadi, komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok dan organisasi, komunikasi macro-sosial serta komunikasi massa. Lebih lanjut, sejalan dengan kegiatan pembangunan yang terjadi di seluruh negara, termasuk negara-negara berkembang studi-studi khusus tentang peranan dan kontribusi komunikasi dalam proses perubahan sosial, difusi inovasi, juga mulai banyak dilakukan.

Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi

Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi

4. Periode Teknologi Komunikasi: Tahun 1960-an s/d Sekarang

Sejak tahun 1960-an perkembangan ilmu komunikasi semakin kompleks dan mengarah pada spesialisasi. Menurut Rogers (1986) perkembangan studi komunikasi sebagai suatu disiplin telah mulai memasuki periode take off (tinggal landas) sejak tahun 1950. Secara institusional, kepesatan perkembangan ilmu komunikasi pada masa sekarang ini tercermin dalam beberapa indikator, yaitu:

  1. Jumlah universitas yang menyelenggarakan program pendidikan komunikasi semakin banyak dan tidak hanya terbatas di negara-negara maju seperti AS, tetapi juga negara-negara berkembang di Asia, Amerika Latin dan Afrika,
  2. Asosiasi-asosiasi profesional di bidang ilmu komunikasi juga semakin banyak tidak saja dalam jumlah, tetapi juga cakupan keanggotaannya yang regional dan internasional,
  3. Semakin banyaknya pusat-pusat penelitian dan pengembangan komunikasi.

Dalam bidang keilmuan, kemajuan disiplin ilmu komunikasi ini juga tercermin dengan: (1) semakin banyak literatur komunikasi seperti buku-buku/jurnal- jurnal, hasil-hasil penelitian ilmiah ataupun terapan, monografis, dan bentuk- bentuk penerbitan lainnya, (2) semakin beragamnya bidang-bidang studi spesialisasi komunikasi, (3) semakin banyaknya teori-teori dan model-model komunikasi yang dihasilkan para ahli. Sebagai gambaran, hingga saat ini terdapat 126 definisi, sekitar 50 teori dan 28 model komunikasi (Dance, 1982; Littlejohn, 1989; MCQuail & Windahi, 1981; Forsdale, 1981).

Periode masa sekarang juga disebut sebagai periode teknologi komunikasi dan informasi yang ditandai oleh beberapa faktor, yaitu:

  1. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi seperti komputer, VCR, TV Cable, Parabola, video home computers, satelit komunikasi, teleprinter, videotext, laser vision, dan alat-alat komunikasi jarak jauh lainnya,
  2. Tumbuhnya industri media yang tidak hanya bersifat nasional, tetapi juga regional dan global,
  3. Ketergantungan terhadap situasi ekonomi dan politik global atau internasional, khususnya dalam konteks center periphery (pusat dan sekelilingnya atau pinggirannya),
  4. Semakin gencarnya kegiatan pembangunan ekonomi di seluruh negara,
  5. Semakin meluasnya proses demokrasi (liberalisasi) ekonomi dan politik.

Sebagai akibatnya, studi-studi komunikasi yang banyak dilakukan (khususnya di negara-negara maju seperti AS) cenderung difokuskan pada proses dan dampak sosial penggunaan teknologi media komunikasi, arus penyebaran dan pemusatan informasi regional dan global (misalnya transborder data flow), aspek-aspek politik dan ekonomi informasi, kompetisi antarmedia, dampak sosial dari teknologi interaktif seperti komputer, komunikasi manusia, mesin, dampak telekomunikasi terhadap hubungan antarbudaya, serta aspek-aspek yang menyangkut manajemen informasi. Pendekatan disiplin ekonomi mulai diterapkan karena disadari bahwa informasi di masa sekarang ini merupakan komoditi yang mempunyai nilai tambah.

Baca juga: Urgensi dan Fungsi Ilmu Komunikasi

5. Sekilas Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi Di Indonesia

Dibandingkan dengan jurusan-jurusan lainnya di lingkungan fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, jurusan komunikasi sebenarnya merupakan jurusan yang tergolong “tertua”. Sebutan jurusan ilmu komunikasi baru dikenal pada sekitar tahun 1970-an. Sementara sebelumnya populer dengan sebutan Jurusan Publisistik atau Jurnalistik.

Menurut laporan “perkembangan Ilmu Komunikasi di Indonesia” yang dibuat oleh Tim ISKI Semarang, ilmu komunikasi telah diajarkan pada Akademi Ilmu Politik di Yogyakarta pada tahun 1946. Tahun 1950, akademi tersebut kemudian menjadi bagian sosial politik dari Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, di mana penerangan menjadi salah satu jurusan yang ada di dalamnya. Perguruan tinggi berikutnya yang menyelenggarakan pendidikan komunikasi adalah Perguruan Tinggi Djurnalistik di Jakarta yang didirikan pada tanggal 5 September 1963. Kini perguruan tinggi ini namanya telah berubah menjadi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang memiliki Fakultas Komunikasi.

Di Universitas Indonesia, pendidikan komunikasi telah dimulai sejak tahun 1959 dengan dibukanya jurusan Publisistik pada Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan. Dibukanya jurusan Publisistik ini sekaligus merupakan awal dari munculnya fakultas baru di lingkungan Universitas Indonesia, yakni Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakat (FIPK). Empat tahun kemudian sebutan Fakultas IPK diganti menjadi Ilmu- ilmu Sosial (FIS-UI), dan sejak tahun 1983 nama FISUI ini diubah lagi menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Sejalan dengan perubahan nama fakultas, sebutan jurusan Publisistik pun ikut berganti menjadi Departemen Komunikasi Massa (1972). Kemudian menjadi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP-UI Pada tahun 1983.

Di Bandung, Jawa Barat, Pendidikan komunikasi dimulai pada tahun 1960 dengan didirikan Fakultas Djurnalistik dan Publisistik yang berbeda di bawah naungan Yayasan Pembina Universitas Padjadjaran. Fakultas ini kemudian menjadi Institut Publisistik, dan tanggal 3 November 1965, diubah statusnya menjadi Fakultas Publisistik Universitas Padjadjaran. Kini namanya telah berubah menjadi Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM- UNPAD). Pada tahun-tahun berikutnya perguruan tinggi baik negeri ataupun swasta yang menyelenggarakan pendidikan komunikasi semakin banyak jumlahnya.

Pada awalnya kurikulum program pendidikan tinggi komunikasi di Indonesia hanya dititikberatkan pada bidang studi jurnalistik dan penerangan. Tujuan kurikulum umumnya diarahkan pada upaya pemberian pengetahuan dan keahlian bagi kalangan yang berkecimpung atau berminat untuk bekerja dalam bidang pers. Khususnya surat kabar, majalah dan radio, serta bidang penerangan. Pada masa sekarang ini, pendidikan tinggi komunikasi pada universitas di Indonesia tidak lagi terbatas pada bidang kewartawanan (jurnalistik) dan penerangan.

Bidang-bidang spesialisasi studi lainnya seperti komunikasi pembangunan, kehumasan, periklanan, broadcasting (siaran radio dan TV), perfilman, informatika dan teknologi komunikasi telah pula diselenggarakan. Tingginya  minat  masyarakat  memasuki  bidang  ilmu  komunikasi harus diimbangi dengan kuantitas penyelenggaraan kegiatan di bidang komunikasi. Pada akhirnya dapat memperkuat keberadaan ilmu komunikasi di Indonesia.

You may also like

Leave a Comment

error: Content is protected !!