Home Komunikasi Pemasaran Marketing Sekolah Antara Popularitas Digital dan Public Trust

Marketing Sekolah Antara Popularitas Digital dan Public Trust

by Rudi Trianto
Marketing Sekolah Antara Popularitas Digital dan Public Trust

Marketing Sekolah Antara Popularitas Digital dan Public Trust. Di era digital, sekolah berlomba-lomba tampil menarik di media social. Tidak sedikit yang mengalokasikan anggaran jutaan rupiah untuk iklan digital. Data We Are Social (2024) menunjukkan lebih dari 77% orang tua Indonesia aktif menggunakan media sosial setiap hari. Namun laporan Edelman Trust Barometer (2023) mencatat hanya sekitar 33% yang mempercayai iklan digital sebagai dasar pengambilan keputusan. Jumlah likes, views, share, dan followers, kerap dijadikan tolok ukur pemasaran. Padahal popularitas digital sering kali tidak berbanding lurus dengan jumlah pendaftar. Pertanyaannya, jika iklan digital kurang dipercaya, apa yang harus dilakukan untuk membangun kepercayaan (trust) orang tua?

Ketika Marketing Terjebak Angka Semu

Banyak sekolah hari ini terjebak pada apa yang disebut para ahli sebagai vanity metrics. Istilah ini merujuk pada indikator-indikator populer seperti jumlah likes, views, share, comments dan followers yang terlihat mengesankan. Sayangnya, vanity metrics ini tidak selalu berdampak langsung pada keputusan nyata konsumen. Dalam dunia pendidikan, konsumen utama adalah orang tua. Keputusan mereka jauh lebih kompleks dibanding sekadar tertarik pada konten visual.

Sejumlah studi pemasaran jasa menunjukkan bahwa keputusan memilih layanan pendidikan sangat dipengaruhi oleh faktor kepercayaan (trust). Data Edelman Trust Barometer (2023) misalnya, menunjukkan bahwa 67% konsumen lebih percaya pada rekomendasi orang yang mereka kenal dibandingkan iklan digital. Dalam dunia marketing sekolah, rekomendasi ini seringkali hadir dalam bentuk obrolan ringan antar orang tua.

Baca juga: Empat Kesalahan Konsep dalam Marketing Sekolah

Ironisnya, banyak sekolah mengalokasikan anggaran besar untuk iklan digital tanpa diimbangi dengan kualitas layanan dan relasi dengan wali murid. Meta Ads dan Google Ads memang mampu menjangkau ribuan orang, tetapi tidak otomatis membangun trust capital. Ketika pengalaman orang tua dan siswa tidak sejalan dengan citra yang ditampilkan, kepercayaan justru akan runtuh.

Efeknya adalah terjadi kegelisahan tahunan panitia PPDB. Kursi masih kosong, target belum tercapai, meski aktivitas promosi terlihat masif. Ini menandakan adanya jurang antara popularitas digital dan kepercayaan sosial yang sesungguhnya dibutuhkan sekolah.

Marketing Sekolah Antara Popularitas Digital dan Public Trust

Marketing Sekolah Antara Popularitas Digital dan Public Trust

Word of Mouth sebagai Strategi Bertahan

Di tengah kebisingan iklan digital, strategi klasik word of mouth marketing bisa menjadi pilihan. Philip Kotler menyebut bahwa rekomendasi personal merupakan bentuk komunikasi pemasaran paling kredibel karena lahir dari pengalaman nyata, bukan pesan komersial. Dalam konteks pemasaran sekolah, kekuatan rekomendasi personal ini akan lebih dominan karena menyangkut masa depan anak.

Riset Nielsen Global Trust in Advertising (2022) mencatat bahwa lebih dari 80% responden mempercayai rekomendasi dari teman dan keluarga dibandingkan iklan berbayar. Kalimat sederhana seperti, “Anakku nyaman sekolah di sana, guru-gurunya ngemong dan sabar” sering kali jauh lebih menentukan daripada brosur atau video promosi yang dibuat profesional.

Baca juga: Mari Mengenal Word of Mouth Marketing

Karena itu, strategi marketing sekolah harus saling melengkapi. Bukan hanya sekadar promosi, tetapi juga membangun relasi. Wali murid yang puas bukan hanya pelanggan, tetapi advocate yang secara sukarela membela dan merekomendasikan sekolah. Mereka adalah aset pemasaran paling berharga yang tidak membutuhkan anggaran iklan.

Membangun kondisi ini menuntut perubahan budaya organisasi. Marketing bukan hanya tugas admin media sosial atau tim humas. Ia hadir dalam sikap satpam yang ramah, guru yang responsif, dan staf administrasi yang solutif. Seluruh civitas akademika sekolah harus berorientasi pada excellent service dan full empati. Dari sinilah Kepercayaan akan tumbuh secara alami dan otomatis menciptakan promosi.

You may also like