Home Komunikasi Pemasaran Islamic Marketing Antara Pasar, Nilai, dan Kepercayaan

Islamic Marketing Antara Pasar, Nilai, dan Kepercayaan

by Rudi Trianto
Islamic Marketing Antara Pasar, Nilai, dan Kepercayaan

Islamic Marketing Antara Pasar, Nilai, dan Kepercayaan. Pemasaran hari ini pelan-pelan bergeser. Orang tidak lagi sekadar bertanya apa produknya atau seberapa murah harganya. Kini mereka mulai memperhatikan nilai apa yang dibawa sebuah merek. Perubahan ini terasa kuat di masyarakat Muslim. Di mana etika, kejujuran, dan kepercayaan ikut menentukan pilihan. Keyakinan agama punya pengaruh nyata dalam cara orang mengambil keputusan konsumsi. Di titik inilah Islamic Marketing mulai banyak dibicarakan, apakah menjadi sekadar tren atau memang jawaban atas perubahan zaman.

Konsep Marketing dalam Perspektif Global

Kalau ditarik ke belakang, marketing sebenarnya selalu berubah mengikuti zamannya. Dulu pemasaran identik dengan jualan. Tentang bagaimana produk laku dan stok habis. Fokusnya sederhana yaitu memenuhi permintaan pasar secepat mungkin. Namun kemudian pola itu pelan-pelan bergeser.

Masyarakat berubah, begitu juga cara mereka memandang merek. Globalisasi dan teknologi digital membuat konsumen punya banyak pilihan dan informasi. Mereka tidak mau lagi diperlakukan sebagai angka penjualan. Mereka ingin dihargai sebagai manusia dengan kebutuhan, emosi, dan nilai hidupnya sendiri.

Baca juga: 3 Kata Kunci Sukses Pemasaran Sekolah -eputasi, Rekomendasi, Promosi

Kotler dan Levy sejak tahun 1969 mengingatkan bahwa pemasaran bukan sekadar transaksi ekonomi. Pemasaran adalah proses memahami dan melayani manusia secara utuh. Demikianpun Hofstede, tahun 2010 ia menekankan bahwa tanpa memahami budaya dan nilai lokal, pesan pemasaran mudah meleset atau bahkan ditolak.

Karena itulah, marketing modern bergerak ke arah relasi. Bukan cuma menjual tapi membangun hubungan. Dari sinilah pendekatan berbasis nilai termasuk Islamic Marketing mendapat tempat, karena ia berangkat dari pemahaman tentang manusia dan keyakinannya.

Konsep Islam dalam Marketing

Dalam Islam, aktivitas ekonomi tidak berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan tanggung jawab moral. Berdagang, menjual, dan mencari keuntungan tetap dibingkai oleh nilai kejujuran, keadilan, dan amanah. Konsep halal dan haram menjadi rambu utama dalam menentukan apa yang boleh ditawarkan kepada konsumen.

Islamic Marketing tidak berhenti pada urusan produk halal. Cara berjualan, berbicara, menyusun pesan, dan membangun hubungan juga ikut diatur. Islam menolak komunikasi yang menipu, berlebihan, atau memanipulasi. Transparansi dan kejujuran bukan sekadar etika tambahan tapi inti dari praktik bisnis.

Islamic Marketing Antara Pasar, Nilai, dan Kepercayaan

Islamic Marketing Antara Pasar, Nilai, dan Kepercayaan

Alserhan (2011) menyebut bahwa Islamic Marketing berarti menjalankan seluruh proses pemasaran sesuai prinsip syariah, bukan sekadar menempelkan label Islami. Temuan Ogilvy Noor (2010) juga menunjukkan hal serupa yaitu konsumen Muslim makin peka terhadap keaslian nilai, bukan simbol atau jargon semata.

Di sinilah pendekatan Islamic Marketing menuntut cara berkomunikasi yang lebih manusiawi. Tujuannya bukan hanya mendorong penjualan, tetapi menumbuhkan rasa percaya yang bertahan lama antara pelaku usaha dan konsumen.

Implementasi Islamic Marketing

Menurut data dari Pew Research Center tahun 2011, peluang pasar Islamic Marketing sangat besar. Populasi Muslim dunia terus bertumbuh dan kesadaran pada produk halal makin meluas. Ini menjadikan segmen umat muslim semakin strategi. Bukan hanya di negara mayoritas Muslim, tetapi juga di pasar global.

Yang menarik, produk halal tidak hanya diminati oleh kalangan umat Islam. Prinsip halal yang menekankan kebersihan, keamanan, dan etika justru membuatnya diterima oleh konsumen non-Muslim. Inilah yang membuat Islamic Marketing bersifat inklusif dan lintas budaya.

Baca juga: 4 Pilar dan Strategi Implementasi Marketing School 6.0

Dalam praktiknya, banyak perusahaan besar mulai menyesuaikan strategi mereka. Nestlé, Unilever, hingga L’Oréal mengembangkan produk halal dengan pendekatan yang sensitif terhadap nilai lokal. Sertifikasi dan indeks halal pun berperan penting dalam membangun rasa aman dan kepercayaan publik.

Tantangan terbesarnya ada pada keotentikan. Ketika nilai Islam hanya dijadikan alat promosi, kepercayaan akan mudah runtuh. Islamic Marketing baru benar-benar bekerja jika nilai, etika, dan komitmen dijalankan secara konsisten dan dalam jangka waktu yang panjang.

You may also like