Buku ini layak dibaca karena berhasil mengubah isu politik harian menjadi renungan tentang arah bangsa yang lebih dalam. Vibe-nya tegas, bernada nasihat kebangsaan yang religius, dan terasa seperti catatan seorang pengamat yang ingin negeri ini selamat, bukan sekadar ramai. Alasan untuk peduli jelas, buku ini memaksa pembaca melihat bahwa perubahan pemerintahan tidak akan berarti besar jika yang dibenahi hanya program, sementara kualitas manusia dan budaya hidup justru dibiarkan.
Membaca Indonesia di Simpang Jalan
Membaca buku ini seperti mengikuti serial artikel yang tiap episodenya membuka satu simpul masalah Indonesia. Ada rasa diajak menatap era baru dengan harapan, tetapi harapan yang tidak naif. Suasananya serius, kadang menggelisahkan, namun tetap menyisakan dorongan untuk tetap waras dan bekerja.
Baca juga: Kalau Indonesia Emas 2045 Cuma Angka, Buku Ini Menampar Anda
Isi buku bergerak dari komentar terhadap awal pemerintahan Presiden Prabowo, lalu melebar ke isu keluarga, pesantren, pendidikan, demokrasi, ekonomi, hingga cara memahami bahasa politik di tingkat elite. Di banyak bagian, pembaca serasa dibawa ke ruang diskusi yang ramai, tetapi disuruh menepi sebentar untuk bertanya, sebenarnya akar persoalannya ada di mana.
Yang paling terasa adalah atmosfer “peringatan yang sayang”. Banyak pengingat tentang penyakit cinta dunia, budaya korupsi, dan rapuhnya karakter, disandingkan dengan kutipan tokoh seperti Mohammad Natsir, Bung Hatta, Buya Hamka, hingga Ki Hajar Dewantara. Nuansa ini membuat bacaan terasa seperti peta moral untuk membaca perubahan zaman.

Buku Indonesia di Era Presiden Prabowo Bangkit Sekarang atau Terpuruk Kemudianrevie
Arah Bangsa yang Ditawarkan Buku Ini
Kekuatan utama buku ini ada pada benang merahnya, bangsa tidak akan benar-benar bangkit jika pembangunan hanya dikejar lewat angka. Berkali-kali ditegaskan bahwa kemajuan jiwa, iman, akhlak, kejujuran, dan etos berkorban harus menjadi pusat strategi, bukan tempelan setelah ekonomi dibahas.
Nilai tambah lainnya ada pada keberanian menghubungkan kebijakan publik dengan pendidikan dan keluarga. Ada dorongan konkret agar negara memberi perhatian serius pada ketahanan keluarga, peran pesantren, serta perubahan makna pendidikan tinggi agar tidak sekadar mengejar ijazah dan ranking, tetapi membentuk manusia yang adil dan beradab.
Relevansinya kuat untuk pendidik, penggerak dakwah, pengelola lembaga pendidikan, dan pembaca yang ingin memahami era politik tanpa tenggelam dalam gosip. Buku ini bukan ramalan, melainkan cara membaca realitas. Ia menawarkan sudut pandang bahwa kritik, doa, dan kerja perbaikan bisa berjalan bersama. Selama tujuan besarnya tetap jelas, Indonesia yang kuat, adil, dan bermartabat.
Informasi Bibliografi
Judul: Indonesia di Era Presiden Prabowo: Bangkit Sekarang atau Terpuruk Kemudian.
Keterangan: Kumpulan artikel setahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Penulis: Dr. Adian Husaini, M.Si.
Bentuk: Naskah PDF (tertulis “draft kedua”)
Tebal: 113 halaman
Penerbit: Tidak tercantum pada file PDF