Home Komunikasi Pemasaran 4 Pilar dan Strategi Implementasi Marketing School 6.0

4 Pilar dan Strategi Implementasi Marketing School 6.0

by Rudi Trianto
4 Pilar dan Strategi Implementasi Marketing School 6.0

4 Pilar dan Strategi Implementasi Marketing School 6.0. Banyak sekolah hari ini sebenarnya unggul secara akademik dan program, tetapi gagal dikenal dan dipercaya publik. Masalah ini muncul karena strategi pemasaran pendidikan masih terjebak pada pencitraan, bukan pada komunikasi nilai dan dampak. Hemsley-Brown & Oplatka dalam bukunya Higher Education Consumer Choice (2015), menjelaskan bahwa layanan publik berisiko tinggi seperti pendidikan, kepercayaan dibangun melalui bukti kinerja, transparansi, dan relasi jangka panjang, bukan popularitas semu. Nah, apa saja 4 pilar dan strategi implementasi Marketing School 6.0 agar sekolah mendapatkan kepercayaan publik?

Sekolah Unggul yang Tidak Dipercaya Publik

Banyak sekolah hari ini sebenarnya sudah bekerja keras meningkatkan kualitas internalnya. Kurikulum disusun rapi, guru dilatih secara berkala, dan prestasi siswa juga tidak sedikit. Namun di sisi lain, keunggulan tersebut sering kali tidak berbanding lurus dengan tingkat kepercayaan masyarakat. Publik melihat sekolah itu biasa saja, bahkan ragu, meskipun di dalamnya terjadi banyak praktik pendidikan yang baik.

Masalah utamanya bukan pada mutu pendidikan, melainkan pada cara sekolah menyampaikan nilai dan dampaknya. Sekolah sering merasa cukup dengan bekerja baik di dalam, tetapi lupa menjelaskan hasil kerjanya ke luar. Dalam pemasaran pendidikan, kualitas internal tidak otomatis terbaca oleh publik. Orang tua hanya bisa menilai dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan secara tidak langsung.

Baca juga: Evolusi Pemasaran Sekolah Dari Branding Menuju Legacy

Kondisi ini dikenal sebagai kesenjangan informasi atau information asymmetry. Sekolah mengetahui kualitasnya, tetapi orang tua tidak memiliki alat untuk menguji secara cepat dan objektif. Berbeda dengan membeli barang, kualitas pendidikan baru terlihat setelah proses panjang. Karena itu, persepsi publik sangat dipengaruhi oleh reputasi, cerita dari orang lain, dan bukti sosial yang beredar di masyarakat (Hemsley-Brown & Oplatka, 2015).

Ng & Forbes di Journal of Marketing for Higher Education (2009) mengatakan bahwa kepercayaan terhadap sekolah tumbuh dari konsistensi kinerja dan komunikasi jangka panjang, bukan dari klaim sepihak atau promosi sesaat. Jika sekolah hanya menampilkan prestasi tanpa menjelaskan dampak dan prosesnya, publik akan kesulitan memahami makna keunggulan tersebut. Tanpa strategi komunikasi berbasis kepercayaan, sekolah unggul berisiko tenggelam di tengah ramainya informasi.

Pilar Marketing School 6.0: Purpose, Impact, Trust, dan Ecosystem

Marketing School 6.0 lahir dari kesadaran bahwa pemasaran pendidikan tidak lagi cukup bertumpu pada citra dan popularitas. Pendekatan ini menekankan nilai, dampak nyata, dan kepercayaan publik sebagai fondasi utama. Pilar pertama adalah purpose, yaitu kejelasan misi sekolah dalam membangun generasi dan memberi kontribusi bagi masyarakat. Sekolah yang mampu menjelaskan tujuan keberadaannya dengan sederhana dan jujur lebih mudah membangun kedekatan emosional dengan orang tua.

Pilar kedua adalah impact. Publik tidak hanya ingin tahu apa program sekolah, tetapi apa hasil nyatanya. Dampak bisa berupa perubahan sikap siswa, kemandirian, karakter, hingga kesiapan menghadapi kehidupan. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam The Future of Education and Skills: Education 2030 (2018) menjelaskan bahwa kepercayaan terhadap lembaga pendidikan meningkat ketika hasil pendidikan dapat dirasakan dan dijelaskan secara konkret, bukan sekadar dijanjikan.

4 Pilar dan Strategi Implementasi Marketing School 6.0

4 Pilar dan Strategi Implementasi Marketing School 6.0

Pilar ketiga adalah trust. Kepercayaan dibangun melalui transparansi, konsistensi, dan akuntabilitas. Sekolah yang terbuka terhadap data, kebijakan, dan proses pengambilan keputusan akan lebih mudah dipercaya. Morgan & Hunt dalam “The Commitment-Trust Theory of Relationship Marketing.” Journal of Marketing (1994) mengatakan, dalam pemasaran jasa, kepercayaan terbukti menjadi faktor kunci dalam membangun hubungan jangka panjang antara institusi dan penggunanya.

Pilar keempat adalah ecosystem. Sekolah tidak bisa berdiri sendiri. Kolaborasi dengan orang tua, komunitas, dunia industri, dan perguruan tinggi memperkuat posisi sekolah sebagai bagian dari sistem sosial yang relevan. Pendekatan ekosistem membantu sekolah membangun legitimasi publik yang lebih luas dan berkelanjutan.

Strategi Praktis Implementasi Marketing School 6.0

Menerapkan Marketing School 6.0 membutuhkan keberanian sekolah untuk lebih terbuka dan terukur. Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah menyediakan dashboard kinerja publik. Melalui media ini, sekolah dapat membagikan informasi tentang capaian akademik, kegiatan siswa, layanan, dan program pengembangan secara sederhana dan mudah diakses. Transparansi semacam ini sejalan dengan prinsip akuntabilitas publik dalam tata kelola pendidikan modern (OECD, 2017).

Strategi berikutnya adalah menceritakan dampak pendidikan secara autentik. Sekolah tidak perlu berlebihan mempromosikan diri, cukup menyampaikan kisah nyata perubahan yang dialami siswa dan alumni. Cerita yang jujur dan relevan jauh lebih dipercaya dibanding iklan yang penuh klaim. Kotler et al., dalam buku Brand Activism: From Purpose to Action (2019) menyatakan bahwa storytelling berbasis dampak lebih efektif membangun kepercayaan publik daripada promosi konvensional.

Baca juga: Stop Perang Harga, Start Pendidikan Bermakna

Kolaborasi juga menjadi strategi penting. Kerja sama dengan industri, komunitas, dan perguruan tinggi memperkaya pengalaman belajar sekaligus meningkatkan relevansi pendidikan. Selain itu, sekolah perlu mengedukasi orang tua berbasis data melalui forum rutin, laporan perkembangan, dan dialog terbuka. Langkah ini membantu orang tua memahami proses pendidikan secara lebih utuh.

So, Marketing School 6.0 menempatkan sekolah bukan sebagai institusi yang paling populer, tetapi sebagai institusi yang paling dipercaya. Kepercayaan inilah yang menjadi modal utama agar sekolah dapat bertahan, berkembang, dan memberi dampak jangka panjang bagi masyarakat.

You may also like