Home Sudut Pandang Dialektika Peran SDM antara Organisasi dan Profesi Perspektif Teori Dramaturgi

Dialektika Peran SDM antara Organisasi dan Profesi Perspektif Teori Dramaturgi

by Rudi Trianto
Dialektika Peran SDM antara Organisasi dan Profesi Perspektif Teori Dramaturgi

Oleh: Muhammad Sahri Sauma – Mahasiswa Ilmu Komunikasi Program Doktoral (S3) UNISBA Bandung & Dosen STAI Luqman Al Hakim Surabaya (Madinah, 28 Desember 2025).

Dalam dunia kerja modern, sumber daya manusia (SDM) tidak lagi dapat dipahami sebagai entitas tunggal yang hanya melekat pada satu institusi. Seorang individu hari ini seringkali memainkan lebih dari satu peran sekaligus: sebagai anggota organisasi, sebagai representasi profesi, dan sebagai pribadi dengan nilai serta identitasnya sendiri. Fenomena ini menimbulkan dinamika menarik, bahkan ketegangan, antara tuntutan organisasi dan etos profesional. Namun, jika dibaca secara komunikatif dan reflektif, dinamika tersebut justru dapat menjadi sumber kekuatan, bukan konflik.

Analogi sepak bola memberikan gambaran yang sangat relevan. Seorang pemain profesional yang sama dapat tampil untuk klubnya di liga domestik, lalu pada waktu lain mengenakan seragam tim nasional. Pemainnya tetap sama, keterampilannya tidak berubah, tetapi makna, tanggung jawab, dan ekspektasi publik yang melekat padanya sangat berbeda. Di klub, ia dituntut loyal pada manajemen dan strategi klub. Sementara di tim nasional, ia memikul simbol negara dan harapan kolektif bangsa. Perbedaan ini bukan kontradiksi, melainkan perbedaan panggung.

Baca juga: Ketika Majalah Dakwah Menolak Punah

Dalam konteks SDM organisasi, baik di dunia pendidikan, birokrasi, korporasi, maupun lembaga sosial, fenomena serupa terjadi. Seorang dosen, misalnya, adalah bagian dari universitas tertentu, namun sekaligus merupakan anggota komunitas akademik nasional dan global. Dokter yang bekerja di rumah sakit tertentu, tetapi identitas profesionalnya melampaui institusi tempat ia bertugas. Seorang guru, dai, atau praktisi komunikasi tidak hanya membawa nama lembaga, tetapi juga membawa reputasi keilmuan dan moral pribadinya. Di sinilah dialektika antara organisasi dan profesi berlangsung secara nyata.

Teori Dramaturgi Goffman Front Stage dan Back Stage

Teori komunikasi dramaturgi yang diperkenalkan oleh Erving Goffman membantu kita memahami fenomena ini secara lebih jernih. Goffman memandang kehidupan sosial sebagai sebuah pertunjukan drama, di mana individu bertindak sebagai aktor yang tampil di berbagai panggung sosial. Setiap panggung memiliki audiens, aturan, dan ekspektasi yang berbeda. Dalam kerangka ini, perbedaan perilaku individu bukanlah bentuk ketidakkonsistenan moral, melainkan strategi sosial yang rasional dan sah.

Konsep front stage dalam dramaturgi menjelaskan bagaimana individu menampilkan diri sesuai dengan tuntutan peran yang sedang dijalani. Ketika seorang pemain membela tim nasional, ia tampil dengan gestur patriotik, disiplin simbolik, dan komunikasi yang mencerminkan kepentingan kolektif. Demikian pula SDM dalam organisasi: saat tampil sebagai perwakilan institusi, ia membawa identitas, citra, dan nilai organisasi tersebut. Bahasa, sikap, bahkan pilihan topik komunikasi disesuaikan dengan panggung yang sedang dihadapi.

Sebaliknya, back stage adalah ruang di mana individu mempersiapkan diri, merefleksikan peran, dan menegosiasikan identitasnya. Di ruang inilah SDM mengembangkan kompetensi profesional, memperkuat integritas pribadi, dan menjaga konsistensi nilai. Back stage bukanlah ruang kepura-puraan, tetapi ruang kejujuran dan pematangan diri. Tanpa back stage yang sehat, front stage akan kehilangan kualitas dan keotentikannya.

Dialektika Peran SDM antara Organisasi dan Profesi Perspektif Teori Dramaturgi

Dialektika Peran SDM antara Organisasi dan Profesi Perspektif Teori Dramaturgi

Loyalitas Identitas Profesional dan Manajemen Kesan SDM

Masalah sering muncul ketika organisasi gagal memahami logika dramaturgis ini. Ketika organisasi menuntut loyalitas absolut tanpa memberi ruang bagi identitas profesional, SDM dapat mengalami alienasi. Sebaliknya, ketika individu mengedepankan profesi tanpa sensitivitas terhadap kepentingan organisasi, konflik struktural pun muncul. Padahal, dalam perspektif dramaturgi, keberhasilan aktor justru terletak pada kemampuannya memainkan peran yang berbeda secara konsisten dan bermakna.

Dalam sepak bola modern, klub-klub besar justru bangga ketika pemainnya dipanggil ke tim nasional. Pemanggilan tersebut dipahami sebagai pengakuan atas kualitas pembinaan klub. Ketika pemain tampil baik di level internasional, reputasi klub ikut terangkat. Logika ini seharusnya juga berlaku dalam organisasi lain. SDM yang aktif di ranah profesional—menulis, berbicara di forum publik, berkontribusi pada komunitas keilmuan—seharusnya dilihat sebagai aset simbolik organisasi, bukan ancaman.

Baca juga: Kampus Elit Mahasiswa Sulit

Di sinilah konsep manajemen kesan (impression management) menjadi kunci. SDM secara sadar mengelola cara ia tampil, berbicara, dan berinteraksi agar sesuai dengan panggung yang dihadapi. Manajemen kesan bukan manipulasi, melainkan kecerdasan komunikatif. Individu yang matang secara profesional mampu menjaga batas antara kepentingan organisasi dan integritas profesinya, tanpa harus mengorbankan salah satunya.

Lebih jauh, dramaturgi mengajarkan bahwa identitas tidak bersifat statis, tetapi dibentuk melalui interaksi sosial yang berulang. Seorang SDM tidak “kehilangan diri” ketika berpindah peran, justru memperkaya dirinya melalui pengalaman lintas panggung. Organisasi yang adaptif adalah organisasi yang memahami bahwa penguatan individu akan berdampak langsung pada penguatan lembaga.

Dengan demikian, dialektika antara organisasi dan profesi seharusnya tidak dipahami sebagai pertentangan, melainkan sebagai relasi saling membutuhkan. Organisasi menyediakan struktur, sumber daya, dan legitimasi. Profesi menyediakan standar kualitas, etika, dan pengakuan sosial. SDM berada di tengah-tengah sebagai aktor utama yang menjembatani keduanya melalui komunikasi dan performa sosial.

Sebagai penutup, artikel ini menegaskan bahwa “pemain yang sama” memang akan selalu tampil di “panggung yang berbeda”. Perbedaan panggung tidak perlu ditakuti, apalagi ditolak. Justru di sanalah kualitas SDM diuji dan diperlihatkan. Dengan pemahaman dramaturgis yang matang, individu dan organisasi dapat bergerak dalam harmoni: saling menguatkan, saling mengangkat, dan bersama-sama membangun reputasi yang berkelanjutan.

You may also like