Ketika Gelar Tinggi Lahirkan Gengsi. Yang mengerikan dari Pendidikan tinggi bukanlah ilmunya, melainkan jebakan gelarnya. Ketika gelar dianggap sebagai gengsi, seseorang bisa enggan melakukan pekerjaan yang ia anggap tidak sesuai dengan pendidikannya. Akibatnya, gelar yang seharusnya membuka jalan justru menjadi penghalang untuk bekerja dan berkontribusi. Jika demikian, apa arti pendidikan tinggi jika malah menjauhkan seseorang dari kerja nyata?
Jebakan Gelar dan Ilusi Status
Salah satu ironi terbesar dunia modern adalah ketika pendidikan—yang seharusnya membebaskan manusia—justru menciptakan belenggu baru berupa gengsi akademik. Gelar yang semestinya menjadi sarana memahami realitas, bergeser menjadi simbol status sosial. Banyak orang kemudian terperangkap dalam anggapan bahwa pekerjaan tertentu tidak sepadan dengan “level” pendidikannya. Akibatnya, menganggur dianggap lebih terhormat daripada bekerja di sektor yang dipersepsikan lebih rendah.
Baca juga: Kampus Elit Mahasiswa Sulit
Jebakan gelar ini melahirkan generasi yang kuat secara teori, tetapi kaku menghadapi realitas. Mereka terbiasa berpikir abstrak, namun canggung beradaptasi dengan dunia nyata. Konsep kerja dipahami, tetapi praktik kerja dihindari karena dianggap merendahkan martabat diri. Di sinilah kegagalan pendidikan tampak jelas. Terlalu sibuk mencetak ijazah, namun gagal melahirkan pembelajar sejati yang siap berkontribusi.
Padahal pendidikan sejati tidak pernah mengajarkan untuk meninggikan diri. Ia justru menanamkan nilai kerja keras, kejujuran, dan penghormatan terhadap setiap profesi yang memberi manfaat. Nilai manusia tidak ditentukan oleh huruf di belakang nama, melainkan oleh seberapa besar dampak nyata yang ia hadirkan dalam kehidupan sosial.

Ketika Gelar Tinggi Lahirkan Gengsi
Antara Martabat Akademik dan Gengsi Sosial
Pendidikan sejatinya tidak dimaksudkan untuk melahirkan rasa lebih tinggi dari orang lain. Melainkan untuk memperluas cara berpikir dan memperdalam tanggung jawab sosial. Ketika gelar akademik berubah menjadi simbol gengsi, yang terjadi bukan peninggian martabat ilmu, tetapi justru penyempitan maknanya. Gelar kehilangan fungsi etik dan direduksi menjadi identitas status.
Sebagai pemilik gelar, penting untuk membedakan antara martabat akademik dan gengsi sosial. Martabat lahir dari integritas, kontribusi, dan kedewasaan berpikir. Sebaliknya, gengsi tumbuh dari ketakutan dianggap “turun kelas”. Pendidikan tinggi tidak mengajarkan untuk memilih kerja berdasarkan citra, tetapi untuk memahami nilai di balik setiap bentuk kerja yang jujur dan bermanfaat.
Kritik terhadap jebakan gelar bukanlah sikap anti-intelektual. Justru sebaliknya, ia menuntut agar ilmu tidak berhenti sebagai konsep. Ilmu harus hadir sebagai tindakan. Ilmu yang tidak mampu beradaptasi dengan realitas akan kehilangan relevansinya, betapapun tinggi gelarnya. Akademisi sejati diuji bukan oleh titel, melainkan oleh kemampuannya menerjemahkan pengetahuan ke dalam kerja nyata.
Menempatkan Gelar dan Pekerjaan secara Dewasa
Masalah gengsi kerja tidak sepenuhnya bisa dibebankan pada individu. Ada faktor struktural yang ikut membentuk cara pandang tersebut. Terutama sistem pendidikan yang terlalu menekankan capaian formal—nilai, ijazah, dan gelar. Pendidikan sering sukses melahirkan lulusan cerdas, tetapi kurang membekali mereka dengan kesiapan mental untuk bekerja di medan yang tidak selalu ideal.
Baca juga: Nasib Kampus Kecil, Bertahan atau Tumbang
Akibatnya, lahir paradoks social yakni individu berpendidikan tinggi namun rapuh secara praksis. Mereka terlatih menganalisis, tetapi ragu mengeksekusi. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena terhambat oleh bayangan gengsi dan ketakutan kehilangan citra. Padahal dunia kerja tidak selalu bergerak linier dengan gelar. Ia menuntut adaptasi, ketangguhan, dan kesediaan belajar ulang yang bahkan dari posisi yang dianggap rendah.
Di sinilah pentingnya mendudukkan ulang makna gelar. Gelar bukan tiket kenyamanan, tetapi tanda kesiapan untuk memikul tanggung jawab yang lebih luas. Pendidikan tinggi seharusnya melahirkan pribadi yang lebih lentur, bukan lebih kaku; lebih berani terjun, bukan lebih sibuk menjaga jarak. Ketika gelar justru membatasi ruang gerak, maka yang perlu dikoreksi bukan pekerjaannya, melainkan cara memahami pendidikan.
Gelar adalah amanah, bukan mahkota. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar kewajiban moralnya untuk memberi manfaat dalam peran apa pun yang dijalani. Tidak ada pekerjaan yang merendahkan jika dilakukan dengan niat baik dan kejujuran. Justru dari kesediaan untuk turun tangan, belajar dari realitas, dan bekerja tanpa gengsi, martabat sejati seorang terdidik menemukan maknanya.