Ketika Majalah Dakwah Menolak Punah. Media cetak hari ini tidak sedang baik-baik saja. Mereka dipaksa berlari mengejar pembaca yang pindah ke layar ponsel. Orang ingin informasi yang cepat, singkat, dan mudah diakses lewat internet dan media sosial. Salah satu media cetak dakwah menolak punah. Majalah Suara Hidayatullah memilih jalur adaptasi, ber-mediamorfosis. Sekaligus membenahi cara bisnisnya dengan jurus Business Model Canvas. Jadi pertanyaannya bukan lagi media cetak mati atau tidak, melainkan siapa yang mampu beradaptasi.
Mediamorfosis sebagai Cara Bertahan
Banyak orang mengira mediamorfosis itu cuma pindah format dari cetak ke PDF. Padahal, mediamorfosis adalah perubahan cara kerja media mulai dari produksi, distribusi, sampai cara membangun hubungan dengan pembaca. Roger Fidler dalam “Mediamorphosis: Understanding New Media” mengatakan bahwa media lama tidak selalu mati, tapi berevolusi.
Di tengah perubahan, di mana pembaca terbiasa mengakses berita lewat gawai, media cetak kehilangan hak istimewa sebagai sumber informasi utama. Dulu, majalah bisa menunggu sebulan untuk terbit. Sekarang, pembaca menunggu notifikasi tiap menit. Belum lagi algoritma media sosial yang bisa mengangkat isu tertentu dan menenggelamkan isu lain hanya dalam hitungan jam.
Baca juga: Kampus Elit Mahasiswa Sulit
Di titik ini, Suara Hidayatullah menarik karena tidak sekadar bertahan tapi punya cerita panjang. Ia lahir dari lembaran dakwah sederhana, kemudian tumbuh jadi majalah bulanan. Pada akhirnya masuk ke fase digital lebih awal untuk ukuran media Islam saat itu. Ada tahap perintisan, penguatan, dan pengembangan yang menunjukkan satu hal yakni bertahan itu tidak terjadi sekali tapi berkali-kali.
Yang menarik, perubahan Suara Hidayatullah juga mencerminkan tiga kata kunci mediamorfosis ala Fidler: Koevolusi, Konvergensi, dan kompleksitas. Yakni media lama hidup berdampingan dengan yang baru, banyak platform menyatu, dan pengelolaan media makin rumit. Jadi, mediamorfosis bukan urusan desain melainkan keputusan strategis. Kalau dulu pertanyaannya bagaimana mencetak, sekarang pertanyaannya bagaimana tetap dipercaya, dibaca, dan dibiayai.
BMC sebagai Peta Penyelamat Media Cetak
Di era digital, media bukan hanya berpikir tentang konten. Media juga dituntut berpikir bisnis. Di sinilah konsep Business Model Canvas (BMC) ala Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur menjadi penting. BMC seperti peta sederhana berisi 9 elemen: Siapa pembaca kita, nilai apa yang kita bawa, lewat kanal apa kita hadir, bagaimana hubungan dibangun, dari mana uang masuk, apa sumber daya utama, aktivitas kunci, siapa mitra, dan biaya apa yang paling besar. Kalau dipopulerkan, BMC membantu media menjawab tiga pertanyaan penting yakni siapa yang dilayani, apa yang ditawarkan, dan bagaimana tetap berkelanjutan.

Ketika Majalah Dakwah Hidayatullah Menolak Punah
Dalam kasus majalah Suara Hidayatullah, segmen utamanya kuat di komunitas internal (kader, jamaah, simpatisan), sambil tetap membuka ruang untuk pembaca muslim yang lebih luas. Proposisi nilainya jelas: dakwah dan kajian, perkembangan dunia Islam, sejarah dan khazanah, sampai isu “perang pemikiran”. Ini poin penting, ketika banyak media berebut klik, Suara Hidayatullah memilih identitas yang tegas.
Lalu kanalnya tidak tunggal. Cetak masih berjalan lewat jaringan agen dan cabang, tetapi digital hadir lewat website www.hidayatullah.com , aplikasi baca, dan media sosial. Di sinilah prinsip konvergensi bekerja. Satu brand hidup di banyak tempat.
Dan yang paling sensitive, aliran pendapatan. Penjualan majalah, iklan, edisi digital, sampai penjualan buku menjadi cara diversifikasi. Intinya, media yang sehat tidak menggantungkan napas pada satu kran pendapatan saja. BMC membantu menyusun semuanya dalam satu pandangan, ringkas tapi menohok.
Kunci Bertahan Media Cetak Dakwah
Ada satu hal yang sering dilupakan ketika membahas media, orang tidak sekadar membeli informasi, mereka membeli kepercayaan. Media dakwah punya modal sosial yang unik, yaitu kedekatan nilai dengan pembaca. Tapi modal ini bisa hilang kalau media lambat beradaptasi, atau justru kehilangan ruh dakwah karena terlalu mengejar tren.
Di sinilah tantangannya. Bagaimana tetap idealis, tapi tidak naif. Bagaimana tetap memihak nilai, tapi tidak tertinggal secara teknis. Dan bagaimana tetap hidup sebagai organisasi, tanpa menggadaikan misi.
Baca juga: Matinya Universitas dan Jalan Pulang Kampus Islam
Suara Hidayatullah memberi pelajaran penting. Komunitas bukan sekadar target pasar, tapi ekosistem. Ketika jaringan internal kuat, loyalitas pembaca bisa lebih tahan banting. Tetapi komunitas saja tidak cukup kalau produk tidak relevan dan bernilai penting. Karena itulah kualitas isi, cara penyajian, dan distribusi konten harus menyesuaikan kebiasaan baru.
Ada juga tantangan generasi. Pembaca muda hidup di dunia short video, infografik, dan konten cepat. Media berkonten berat, terlalu Panjang, dan kaku akan kalah di pintu masuk, bahkan KO sebelum isinya terbaca. Ini bukan berarti harus dangkal, tapi perlu pintar mengemas. Bagaimana konten ringkas di depan, dalam di belakang.
Lalu soal teknologi. AI, analitik pembaca, dan algoritma platform bisa jadi sahabat atau musuh. Menjadi sahabat, kalau dipakai untuk memahami kebutuhan pembaca. Berbalik jadi musuh, jika media hanya mengejar viral tanpa arah.
Jadi… keberlanjutan media cetak dakwah bertumpu pada tiga hal. Yakni komunitas yang dirawat, kepercayaan yang dijaga, dan kecepatan adaptasi menghadapi perubahan. Media yang bertahan bukan yang paling besar, tapi yang paling siap menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitas. Wallahu a’lam bishawab.
Disarikan dari: Artikel Ilmiah berjudul “Bisnis Model Canvas Pada Proses Mediamorfosis Majalah Suara Hidayatullah”. Selengkapnya di https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=dXBDYk8AAAAJ