Home Komunikasi Politik Pesan Komunikasi Politik

Pesan Komunikasi Politik

by Cak Rud
Pesan Komunikasi Politik

Pesan dalam komunikasi politik merupakan penjelasan dari apa yang dikatakan oleh komunikator politik. Message merupakan kekuatan yang tidak mungkin terabaikan, karena setiap proses komunikasi mempunyai muatan pesan komunikasi. Content is the king. Konten merupakan dimensi muatan atau isi, sementara komunikasi adalah apa yang dikatakan. Pesan menentukan pemaknaan khalayak terhadap proses komunikasi.

Maka jelas dapat kita pahami bahwa pesan dalam kegiatan politik memiliki kekuatan (power) untuk menyampaikan keinginan, nilai, ideologi, pemikiran, opini, dsb. Oleh karena itu, pengelolaan pesan harus sebaik mungkin agar mempunyai muatan atau isi, dengan tujuan menciptakan persepsi dan opini publik yang baik sehingga mendukung proses politik. Diskursus tentang pesan politik sangalah penting bagi aktor dan pelaku politik. Dan menjadi tantangan bagi dunia kampus, terutama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Ilmu Komunikasi, bahkan Komunikasi Penyiaran Islam. Berikut ini penjelasan tentang pesan politik selengkapnya

Pesan Politik

Setiap proses komunikasi mempunyai muatan pesan komunikasi. Pesan merupakan komponen komunikasi yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik, dalam arti proses komunikasi yang berlangsung mempunyai muatan atau isi komunikasi. Pesan adalah dimensi muatan atau isi komunikasi. Walaupun pesan komunikasi bukan hanya apa yang dikatakan secara verbal, namun juga apa yang tersaji dalam beragam bentuk kemasan nonverbal. Mulyana (2010) menjelaskan bahwa dimensi isi merujuk kepada pesan komunikasi. Pesan komunikasi berkaitan juga dengan bagaimana proses atau cara menyampaikan pesan. Ini artinya adanya keterkaitan pesan atau muatan komuniaksi dengan komponen-komponen lain seperti saluran dan media komunikasi.

Sampai atau tidaknya pesan kepada khalayak sangat ditentukan oleh penyampai pesan. Efekstivitas sebuah berita yang disampaikan sangat penting mempertimbangan siapa, bagaimana, dan kapan pesan disampaikan kepada khalayak. Mulyana (2010) menegaskan bahwa pengaruh pesan terhadap khalayak sangat dipengaruhi oleh komunikator, bentuk layout, jenis huruf, warna tulisan dan lain-lainnya.

Pesan politik sendiri bisa bermakna para pemimpin atau komunikator politik (politisi, profesional, pejabat, atau warga negara yang aktif), dengan satu hal yang menonjolkannya sebagai komunikator politik bahwa dia berbicara politik. Evolusi bahasa politik merefleksikan perubahan dalam pemikiran politik serta mempengaruhi pilihan politik yang dipersepsi.

Baca juga : Konsep Dasar Komunikasi Politik

Jadi pesan politik adalah pembicaraan yang berkembang tentang kekuasaan, pengaruh, autoritas dan konflik. Pesan politik diartikan juga sebagai makna dan aturan kata dalam pembicaraan politik. Pesan politik yang dihasilkan dari hasil pengaruh yang disampaikan para peserta komunikasi yang dapat menghasilkan berbagai makna, struktur, dan akibat. Secara bahasa, pesan politik dapat berarti suatu sistem yang tersusun dari kombinasi lambang-lambang yang signifikan. Pesan politik juga bisa disampaikan melalui gambar-gambar seperti karikatur yang bersifat menyindir atau pesan–pesan politik yang ditujukan kepada seseorangan akan kritikan yang diberikan kepadanya.

Berbagai ragam pesan dalam Komunikasi Politik

Berbagai ragam pesan dalam Komunikasi Politik

Ragam Pesan Politik

Politisi, professional, atau warga negara yang aktif, satu hal yang menonjolkannya sebagai komunikator politik adalah mereka berbicara politik. David V.J Bell (dalam Nimmo, 1989) menjelaskan bahwa terdapat tiga jenis pembicaraan yang mempunyai kepentingan politik, yaitu:

  1. Pembicara Kekuasaan. Merupakan pembicaraan yang mempengaruhi orang lain dengan ancaman atau janji. Bentuknya yang khas adalah ”jika anda melakukan X, saya akan melakukan Y.” Kunci pembicaraan kekuasaan adalah bahwa ’saya’ mempunyai kemampuan untuk mendukung janji maupun ancaman (kekuasaan koersif). Contoh: Seorang presiden memiliki kekuasaan untuk memutuskan apakah sebuah kebijakan.
  2. Pembicaraan Pengaruh. Merupakan pembicaraan yang mempengaruhi orang lain dengan nasihat, dorongan, permintaan, dan peringatan. Bentuknya yang khas adalah ”jika anda melakukan X, maka akan terjadi Y.” Kunci pembicaraan pengaruh adalah bagaimana si pembicara berhasil memanipulasi persepsi atau pengharapan orang lain terhadap kemungkinan mendapat untung atau rugi. Contoh: Pejabat publik (Presiden, Menteri, Gubernur, dsb) mempunyai pembicaraan pengaruh yang berimplikasi terhadap orang banyak atau khlayak.
  3. Pembicaraan Otoritas adalah pemberian perintah. Bentuknya yang khas adalah ” lakukan X” atau ”Tidak boleh melakukan X”. Anggapansebagai penguasa yang sah adalah suara otoritas dan memiliki hak untuk dipatuhi. Contoh: Kepolisian, Kejaksaan dan Kehakiman mempunyai otoritas yang berbeda-beda dalam menuntaskan kasus hukum seseorang.

Jenis-jenis Pesan Politik

Pesan menjelaskan perencanaan politik dalam waktu tertentu. Dan Nimmo (2009) menjelaskan beberapa jenis pesan politik yaitu:

  1. Retorika. Menurut Dan Nimmo, retorika adalah penggunaan seni berbahasa untuk berkomunikasi secara persuasive dan efektif. Retorika juga dapat berarti sebagai suatu bentuk komunikasi dua arah, bisa dalam bentuk komunikasi antar personal atau dalam bentuk komunikasi kelompok bahkan publik, yang tujuannya untuk mempengaruhi lawan bicara demi mempersamakan persepsi komunikator.
  2. Iklan Politik. Pada dasarnya, iklan politik hampir sama tujuannya dengan iklan komersial yaitu memperkenalkan sesuatu dengan tujuan si khalayak mau mempercayai untuk mengkonsumsi atau memilih produk tersebut (parpol). Sehingga inti dari iklan politik adalah bagaimana caranya sebuah parpol dapat merekrut suara terbanyak demi kepentingan kekuasaan golongan parpol itu sendiri.
  3. Propaganda. Salah satu bentuk komunikasi yang paling ekstrim dalam dunia politik adalah propaganda. Karena pesan dalam kegiatan ini bersifat terus menerus demi menciptakan sebuah opini publik yang baru dan agar menjadi kuat, sehingga dalam hal ini khalayak tergerak oleh pemberitaan dari komunikator pesan tersebut.
Kegiatan simbolik berupa kata-kata dalam pembicaraan politik

Kegiatan simbolik berupa kata-kata dalam pembicaraan politik

Sifat Pesan Politik

Sifat pesan (pembicaraan) politik berdasarkan beberapa kegiatan politik antara lain adalah:

  1. Kegiatan simbolik (Kata-kata dalam pembicaraan politik)
    Kegiatan simbolik terdiri atas orang-orang yang menyusun makna dan tanggapan bersama terhadap perwujudan lambang-lambang referensial dan kondensasi dalam bentuk kata-kata, gambar, dan perilaku. Dengan mengatakan bahwa makna dan tanggapan itu berasal dari pengambilan peran bersama, kita meminta perhatian kepada orang untuk memainkan peran.
    Bahasa (Permainan kata dalam pembicaraan politik)
    Dalam komunikasi politik penggunaan bahasa menentukan format narasi (dan makna) tertentu. Fiske (1990) dalam Cultural and Communication Studies, menambahkan bahwa penggunaan bahasa tertentu dengan demikian memiliki implikasi pada bentuk konstruksi realitas dan makna yang terkandung. Pilihan kata dan cara penyajian suatu realitas ikut menentukan struktur konstruksi realitas dan makna yang muncul darinya. Dari perspektif ini, bahasa bukan hanya mampu mencerminkan realitas, tetap bahkan menciptakan realitas.
  2. Semiotik (Makna dan aturan permainan kata politik)
    Pesan-pesan merupakan hasil pengaruh dari para peserta komunikasi banyak bentuknya dan menghasilkan berbagai makna, struktur, dan akibat. Studi tentang keragaman itu merupakan satu segi dari ilmu semiotika, yakni teori umum tentang tanda dan bahasa. Charles Morris (dalam Nimmo, 1989) menyatakan bahwa semiotika membahas keragaman bahasa dari tiga perspektif: Semantika (studi tentang makna); Sintaktika (berurusan dengan kaidah dan struktur yang menghubungkan tanda-tanda satu sama lain; dan Pragmatika (analisis penggunaan dan akibat permainan kata).
  3. Pragmatika (Penggunaan pembicaraan politik)
    Meyakinkan dan membangkitkan massa: pembicaraan politik untuk pencapaian material. Autoritas sosial: pembicaraan politik untuk peningkatan status. Ungkapan personal: pembicaraan politik untuk identitas. Diskusi publik: pembicaraan politik untuk pemberian informasi.
  4. Nimmo menambahkan satu jenis, yaitu Pembicaraan konflik. Maksudnya, melalui pembicaraan, para komunikator politik menyelesaikan perselisihan- perselisihan mereka dengan menyusun perbendaraan kata tentang asumsi, makna, pengharapan dan komitmen bersama.

Pesan Verbal Komunikasi Politik

Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga sebagai sistem kode verbal (Deddy Mulyana, 2005). Bahasa merupakan seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas. Jalaluddin Rakhmat (1994), mendefinisikan bahasa secara fungsional dan formal. Secara fungsional, bahasa berarti alat bersama untuk mengungkapkan gagasan.

Pesan Verbal dalam Komunikasi Politik

Pesan Verbal dalam Komunikasi Politik

Fungsi Pesan Verbal

Menurut Larry L. Barker (dalam Deddy Mulyana, 2005), bahasa mempunyai tiga fungsi, yakni:

  1. Penamaan (Naming atau Labeling). Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasikan objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat merujuk pada komunikasi. Misalnya komunikator politik adalah orang yang bertindak sebagai sumber-sumber pesan politik politikus, professional, dan aktivis.
  2. Fungsi Interaksi. Dalam proses komunikasi selalu berlangsung interaksi antara berbagai pihak yang terlibat. Fungsi interaksi menekankan berbagai gagasan dan emosi yang dapat mengundang simpati serta pengertian atau lemarahan atau kebingungan. Contohnya: Gubernur DKI Anies Baswedan bersepeda, sarapan bareng pekerja, ngopi bareng warga, berdiskusi, berinteraksi langsung dengan masyarakat Jakarta mendatangkan banyak simpati karena merasa dekat dengan masyarakat.
  3. Fungsi Transmisi Informasi. Dalam proses komunikasi, berlangsungnya pengiriman pesan dan pertukaran informasi menjadi isi komunikasi. Keistimewaan bahasa sebagai fungsi transmisi informasi yang lintas-waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita. Misalnya, melalui tulisan dalam artefak peninggalan kita mengenal sejarah masa lalu misalnya sejarah kerajaan Majapahit, Sriwijaya, dsb.

Efektifitas Pesan Verbal

Cansandra L. Book (1980), dalam Human Communication: Principles, Contexts, and Skills, mengemukakan agar komunikasi kita berhasil, setidaknya bahasa harus memenuhi tiga fungsi, yaitu:

Baca Juga : Metode Studi dan Pendekatan Komunikasi Politik

  1. Mengenal dunia di sekitar kita. Melalui bahasa kita mempelajari apa saja yang menarik minat kita, mulai dari sejarah suatu bangsa yang hidup pada masa lalu sampai pada kemajuan teknologi saat ini.
  2. Berhubungan dengan orang lain. Bahasa memungkinkan kita bergaul dengan orang lain untuk kesenangan kita, dan atau mempengaruhi mereka untuk mencapai tujuan kita. Melalui bahasa kita dapat mengendalikan lingkungan kita, termasuk orang-orang di sekitar kita.
  3. Untuk menciptakan koherensi dalam kehidupan. Bahasa memungkinkan kita untuk lebih teratur, saling memahami mengenal diri kita, kepercayaan- kepercayaan kita, dan tujuan-tujuan kita.

Pesan Nonverbal Komunikasi Politik

Pesan nonverbal adalah pesan yang terproduksi dari fungsi selain bahasa dan berbicara, meliputi semua aspek nonverbal dalam perilaku kita meliputi ekspresi wajah, sikap tubuh, nada suara, gerakan tangan, cara berpakaian, dan sebagainya. Edward T. Hall (dalam Mulyana, 2010) menyatakan bahwa komunikasi nonverbal adalah sebuah bahasa diam (silent language) dan dimensi yang tersembunyi (hidden dimension) karena pesan nonverbal tertanam dalam konteks komunikasi.

Pesan Nonverbal dalam Komunikasi Politik

Pesan Nonverbal dalam Komunikasi Politik

Klasifikasi Pesan Nonverbal

Jalaludin Rakhmat (1994) mengelompokkan pesan-pesan nonverbal sebagai berikut:

  1. Kinesik. Pesan nonverbal yang menggunakan gerakan tubuh yang berarti, terdiri dari tiga komponen utama: pesan fasial, pesan gestural, dan pesan postural. Gerakan tubuh seseorang menjelaskan situasi dan kebiasaan, kemudian menjadi praktik dalam kehidupan sehari-hari. Gerakan tubuh Gubernur DIY Hamengkubuwono X terlihat sangat berbeda dengan gerakan tubuh mantan Walikota Surabaya.
  2. Proksemik. Pesan ini melalui pengaturan jarak dan ruang. Umumnya dengan mengatur jarak kita mengungkapkan keakraban kita dengan orang lain. Contohnya posisi duduk para politisi satu dengan lainnya menunjukkan level kedekatan dan pengaruh mereka. Demikian juga dengan berita politik mengenai daerah asal pembaca menjadi lebih menarik perhatian pembaca untuk mengamati peristiwa tersebut.
  3. Artifaktual. Pesan ini melalui penampilan tubuh, pakaian, dan kosmetik. Walaupun bentuk tubuh relatif menetap, orang sering berperilaku dalam hubungan dengan orang lain sesuai dengan persepsinya tentang tubuhnya (body image). Pakaian pejabat pada Era Presdien Jokowi yang memakai kemeja putih sangatlah berbeda dengan pakaian para pejabat pada era sebelumnya. Hal ini menjelaskan tujuan, pola pikir, dan perilaku yang berbeda.
  4. Paralinguistik. Yakni pesan non verbal yang berhubungan dengan dengan cara mengucapkan pesan verbal. Satu pesan verbal yang sama dapat menyampaikan arti yang berbeda bila pengucapannya berbeda. Pengucapan pesan masing-masing actor politik berbeda dan hal ini ikut berpengaruh pada efek yang muncul di masyarakat.
  5. Sentuhan dan bau-bauan. Alat penerima sentuhan adalah kulit, yang mampu menerima dan membedakan emosi orang melalui sentuhan. Sentuhan dengan emosi tertentu dapat mengkomunikasikan: kasih sayang, takut, marah, bercanda, dan tanpa perhatian. Bau-bauan, terutama yang menyenangkan (wewangian) telah berabad-abad menjadi kebiasaan seseorang, juga untuk menyampaikan pesan yakni menandai wilayah kekuasaan mereka, mengidentifikasikan keadaan emosional, pencitraan, dan menarik lawan jenis.

Fungsi Pesan Nonverbal

Mark L. Knapp (dalam Jalaludin, 1994), menyebut lima fungsi pesan nonverbal yaitu:

  1. Repetisi, yaitu mengulang kembali gagasan secara verbal. Misalnya ketika aktor politik mengatakan penolakan, dengan menggelengkan kepala.
  2. Substitusi, yaitu menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya tanpa sepatah katapun seorang anggota politisi menunjukkan persetujuan dengan mengangguk-anggukkan kepala.
  3. Kontradiksi, menolak pesan verbal atau memberi makna yang lain terhadap pesan verbal. Misalnya lawan politik ’memuji’ prestasi saingannya dengan mencibirkan bibir, seraya berkata ”Hebat, kau memang hebat.”
  4. Komplemen, yaitu melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal. Misalnya, air muka politisi menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata.
  5. Aksentuasi, yaitu menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya. Misalnya, seorang pejabat publik mengungkapkan betapa jengkel dia dengan memukul meja.

Baca Juga : Komunikator Politik dalam Komunikasi Politik

Pesan Nonverbal dalam Komunikasi Politik

Warna bendera merupakan salah satu komunikasi politik nonverbal

Warna bendera merupakan salah satu komunikasi politik nonverbal

  1. Kinsesik. Gerakan Tubuh politikus mengandung informasi dan makna tertentu, seperti gerakan mengepalkan tangan oleh seorang kandidat, bermkana keyakinan pada usaha dan kepercayaan mencapai hasil.
  2. Sentuhan. Gerakan sentuhan sesuai dengan batas umum, seperti jabat tangan, memegang pundak, memeluk (dalam kondisi tertentu, sesuai etika moral setempat) dapat menimbulkan kenyamanan dan kepercayaan khalayak.
  3. Intonasi Suara. Tinggi rendahnya volume suara pada saat mengucapkan pesan bermakna penting atau tidaknya sebuah kata atau pernyataan.
  4. Gerakan Mata. Fokus perhatian dan rasa hormat seseorang salah satunya ditentukan oleh gerakan mata. Gerakan mata yang muncul sebagai cara pandang terhadap pihak lain pada saat berinteraksi dapat menjelaskan ketulusan dan perhatian seseorang.
  5. Diam. Sikap diam mengandung makna sedang tidak mau berkomentar, berhati-hati, atau memang tidak mengerti apa yang sedang berlangsung. Politisi yang tidak banyak bicara tidak selamanya tidak perhatian atau tidak paham melainkan cenderung berfikir sebelum melakukan sesuatu.
  6. Postur Tubuh. Bentuk fisik mempengaruhi persepsi khlayak terhadap seorang kandidat actor politic. Kandidat laki-laki dan wanita memunculkan alasan peliputan media dari sudut pandang yang berbeda.
  7. Artefak dan Visualisasi. Material dan visualisasi menjadi bagian dari proses kampanye mencerminkan makna tertentu. Materi yang melekat yang pada tubuh seseorang merepresentasikan dari sikap dan perilaku.
  8. Warna. Pilihan warna mempengaruhi persepsi karena mampu memberikan stimulant panca indra (mata) melihat simbol-simbol, artefak, dan visualisasi untuk mendukung proses kampanye politik.
  9. Waktu. Waktu merupakan alasan utama yang mempengaruhi berbagai program serta perencanaan partai politik, negara, dan politikus.
  10. Logo. Merupakan simbol politik yang sarat makna, mewakili ideology, cita-cita dan program partai. Logo adalah identitas dan branding sebuah parpol atau lembaga tertentu.
  11. Bunyi-bunyian. Pilihan bunyi mencerminkan semangat dan irama dari partai politik, dalam rangka proses kerja yang mencerminkan sebuat semangat dan energy.

Penutup

Demikianlah pembahasan pesan dalam komunikasi politik. Maka jelas dapat kita pahami bahwa pesan dalam kegiatan politik memiliki kekuatan (power) untuk menyampaikan keinginan, nilai, ideologi, pemikiran, opini, dsb. Oleh karena itu, pesan harus sebaik mungkin pengemasannya agar mempunyai muatan atau isi, dengan tujuan menciptakan persepsi dan opini publik yang baik sehingga mendukung proses politik.

Pembahasan tentang pesan politik akan terus berkembang seiring dengan perkembangan dunia teknologi komunikasi dan informasi. Hal ini tentu saja menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaku politik maupun akademisi kampus untuk mengembangkannya. Terutama jurusan FISIP, Ilmu Komunikasi, bahkan jurusan Komunikasi Penyiaran Islam. Semoga bermanfaat www.himso.id

You may also like

Leave a Comment

error: Content is protected !!